Biaya umroh murah 2019 di Jakarta dan informasi akomodasi, jadwal penerbangan, manasik, tata cara umroh, dan yang terkait.
Dena Tour

Hemat, Aman, Terpercaya

(021) 3335 1519/0878 8498 3500

Bagaimana Menentukan Buka Puasa di Pesawat?

Bagaimana Menentukan Buka Puasa di Pesawat?
Begitu lengkapnya ajaran Islam dijelaskan kepada umat manusia di dunia ini. Sampai yang sangat detail sekalipun. Semuanya diatur dalam bingkai Diinul Islam.

Seperti halnya pengaturan saat waktu berbuka di berbagai keadaan. Dalam hal ini, bagaimana menentukan berbuka puasa di pesawat/kapal terbang?

Ada beberapa kondisi yang perlu diperhatikan dalam urusan berbuka dan waktu pesawat lepas landas.

Promo Harga Biaya Umroh Murah 2014-2015 Terbaru!


Kondisi Waktu Pesawat Lepas Landas


1. Matahari telah terbenam

Lalu dia berbuka saat masih di darat. Kemudian tak seberapa lama, pesawat take off (mulai terbang) dan didapati ketika di udara, masih terdapat matahari (belum terbenam).

Dalam kondisi seperti ini, dia tidak perlu mengulang untuk meneruskan puasa dan kemudian berbuka kembali ketika di udara. Akan tetapi puasanya tetap sah ketika telah berbuka di daratan tadi.

Selain itu yang harus diperhatikan, sang pilot tidak diperkenankan untuk menurunkan pesawat hingga mendapat posisi dimana matahari sudah terbenam (tidak kelihatan lagi) agar dapat berbuka. Karena kejadian seperti ini termasuk bagian dari mencari-cari alasan.

Namun, jika memang menurunkan pesawat karena alasan kepentingan penerbangan. Maka hal tersebut diperbolehkan. Dan ketika bertepatan dengan tidak nampak lagi matahari, maka penumpang pesawat pun diperbolehkan untuk berbuka  (Syekh Ibnu Baz; dalam buku Sab’una Mas’alah Fi As-Siyam/Tujuh Puluh Masalah Seputar Puasa)


2. Matahari belum terbenam

Akan tetapi dia melihat jam ataupun televisi, bahwa sudah waktunya berbuka.

Dalam kondisi seperti ini, seseorang tersebut tidak diperbolehkan berbuka. Karena dia berada pada posisi ketinggian pesawat, di mana matahari belum terbenam.

Hal ini selaras dengan firman Allah: “Maka sempurnakan puasa kalian hingga malam”

Di dalam fatwa Al-Lajnah berkata:

“Jika seseorang di waktu siang pada bulan Ramadhan berada di dalam pesawat dan dia dalam kondisi berpuasa serta ingin melanjutkan puasanya sampai malam, maka dia tidak diperkenankan untuk berbuka, kecuali saat matahari telah terbenam.”

Karena orang yang termasuk ke dalam awak pesawat, dapat disebut sebagai bagian dari musafir.

Indahnya Akhir Tahun Bersama Keluarga di Tanah Suci. Cek Harga Biaya Umroh Murah 2014.


Kesepakatan Ulama

Dan para ulama telah bersepakat, bahwa seorang musafir itu boleh berbuka puasa di bulan Ramadhan. Baik dia dalam keadaan lelah maupun tidak.

Akan tetapi, jika dia masih mempunyai kemampuan dan tidak merasa berat atau lelah, maka sebaiknya meneruskan puasanya. Karena itu lebih baik.

Namun, jika memang terasa berat untuk meneruskan puasa. Maka diperbolehkan berbuka dan dia wajib mengqadha puasanya itu di bulan lainnya.


Contoh Lain

Seseorang berbuka di sebuah negara setelah matahari terbenam pada waktu itu. Lalu pesawat pun lepas landas, dan dia kemudian melihat matahari. Maka dia tetap boleh untuk meneruskan buka puasanya.

Karena hukum puasa bagi dia yaitu hukum ketika di tempat pesawat tersebut tinggal landas. Sedangkan ketika dia berada di sana, dengan waktu siangnya yang telah habis.“

Promo Harga Biaya Umroh Murah 2014-2015. Jadikan Momen Bersama Keluarga di Tanah Suci Tidak Terlupakan


Kesimpulan

Dari beberapa penjelasan di atas dan dalil yang sudah diterangkan. Dapat diambil kesimpulan bahwa, panjang pendeknya waktu siang, tidaklah berpengaruh pada waktu berbuka kita. Namun waktu berbuka ditentukan dimana kita berada saat itu.

Intinya yang menjadi patokan waktu untuk berbuka adalah dimana kita berada saat itu dan tidak terlihat lagi matahari.



batas bawah artikel
Kode kalau Bpk/Ibu akan membuat link ke artikel ini
Bagi-bagiin ke anggota
Cetak/email
Back To Top